Kamis, 30 Mei 2013

Tekanan Perekahan


Dalam pelaksanaan perekahan hidrolik, pertama-tama perlu dilakukan orientasi secara menyeluruh tentang  rekahan yang akan dibuat. Masalah pertama adalah model rekahan yang akan dibuat tersebut apakah rekahan horizontal ataukah vertikal. Biasanya perekahan horizontal memang dilakukan namun bila berhadapan dengan dengan formasi yang cukup dalam maka yang dilakukan adalah perekahan vertikal, dan jenis perekahan inilah yang biasanya dilakukan. Tekanan dasar sumur (Bottom Hole Pressure) merupakan variabel yang dapat dipakai untuk membedakan antara perekahan horizontal ataukah vertikal. Tekanan dasar sumur (BHP) diukur selama proses perekahan berlangsung.
Dalam perekahan hidrolik, tekanan awal yang diberikan harus cukup untuk menghancurkan atau merekahkan suatu formasi dan seterusnya harus mampu mengembangkan rekahan yang telah ada tersebut. Pertama kali suatu rekahan dibentuk, fluida di dalamnya akan berfungsi sebagai pendesak, memberikan gaya pada rekahan agar dapat terus berkembang. Suatu rekahan akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan fluida penetrasi (fluida perekah) berviskositas rendah daripada  fluida non-penetrasi berviskositas tinggi
underbalance yang disebabkan akibat Phidrostatik < Pformasi

Rabu, 22 Mei 2013

Rekah kerut (mud cracks)

        Struktur sedimen ini terbentuk karena danau atau rawan atau laut dangkal yang mengalami proses penguapan sehingga menjadi kering, sehingga pada umumnya membentuk retakan polygonal.Struktur ini dapat dipakai sebagai petunjuk lingkungan pengendapan yaitu di darat

MUD CRACKS
MUD CRACK
RAINDROP IMPRESSION













Analisa Fluida Reservoir


         Fluida yang dihasilkan oleh sumur produksi dapat berupa gas, minyak, dan air. Analisa Fluida Reservoir adalah tahapan analisis setelah minyak mentah atau crude oil diambil dari sumur. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kualitas minyak yang nantinya akan berpengaruh terhadap harga dari minyak yang dihasilkan pada suatu reservoir produksi tersebut. Minyak mentah atau crude oil merupakan komponen senyawa hidrokarbon yang terbentuk di dalam bumi, yang berupa cairan, gas, dan padatan, karena tergantung dari komposisi mineralnya serta pengaruh dari tekanan dan temperaturnya. Senyawa hidrokarbon dapat digolongkan menjadi beberapa golongan di antaranya :
·         Golongan Parafin.
·         Golongan Naftalen.
·         Golongan Aromatik.
            Fluida formasi dari suatu lapisan produktif punya nilai ekonomis adalah minyak bumi atau crude oil, yang sering disebut dengan Fluida Reservoir. Fluida reservoir merupakan cairan yang terperangkap dalam suatu trap di mana cairan tersebut berasal dari source rock yang bermigrasi ke lapisan yang lebih porous (misal : sandstone atau carbonate). Cairan yang terperangkap tersebut terhalang oleh suatu cap yang menghalangi minyak bermigrasi ke permukaan. Cairan formasi dapat juga berasal dari kubah garam (salt dome) yang mempunyai kadar air formasi NaCl yang lebih tinggi. Tekanan statik dan temperatur reservoir merupakan faktor penentu besarnya fluida reservoir yang didapat jika lapisan tersebut diproduksikan.
            Dengan teknik analisis dan perhitungan yang baik pada proses pengolahan minyak akan didapatkan hasil yang baik pula. Hasil analisis crude oil juga sangat dipengaruhi oleh cara atau metode pengambilan sample fluida. Karena fluida yang dihasilkan oleh sumur produksi dapat berupa gas, minyak, dan air. Adapun metode pengambilan sample tersebut ada dua cara, yaitu :
1.      Bottom hole sampling
Contoh fluida diambil dari dasar lubang sumur. Hal ini bertujuan agar didapat sample yang lebih mendekati kondisi di reservoir.
            2.      Surface sampling
         Pengambilan sample dilakukan di permukaan. Cara ini biasanya dilakukan pada wellhead atau pada                 separator.

Sabtu, 18 Mei 2013

SLICKLINE TOOL OF WELL TESTING

Shifting tool

Shifting tool Otis BO selectve

Blind Box

Blow Out Preventer (BOP)

BottomHole Fluid sampling

Computer-software

Connection Lubricator

Cross over Slickline unit

Diesal flat Bed truck

Double Drum Slickline Unit

EMR Gauge

Equalizing prong PXX

Gauge Cutter

GO Devil Slickline Unit

Hydraulic jar

Hydraulic Power Open Loop system

Impression Block

Tool down 

Flare
       Slickline is more commonly used in production tubing. The wireline operator monitors at surface the slickline tension via a weight indicator gauge and the depth via a depth counter 'zeroed' from surface, lowers the downhole tool to the proper depth, completes the job by manipulating the downhole tool mechanically, checks to make sure it worked if possible, and pulls the tool back out by winding the slickline back onto the drum it was spooled from. The slickline drum is controlled by a hydraulic pump, which in turn is controlled by the 'slickline operator'.
           Slickline comes in different sizes and grades. The larger the size, and higher the grade, generally means the higher line tension can be pulled before the line snaps at the weakest spot and causes a costly 'fishing' job. Due to downhole tools getting stuck because of malfunctions or 'downhole conditions' including sand, scale, salt, asphaltenes, and other well byproducts settling or loosening off the pipe walls because of agitation either by the downhole tools or a change in downhole inflow, sometimes it is necessary to pull hard on the tools to bring them back uphole to surface. If the tools are stuck, and the operator pulls too hard, the line will snap or pull apart at the weakest spot, which is generally closer to surface as the further uphole the weak point in the line is, the more weight it has to support (the weight of the line).
          Weak spots in the line can be caused by making the circle around the counter wheel, making a bend around a sheave, a kink in a line from normal use (when rigging up the equipment extra line must be pulled out from the truck to give enough slack when the pressure control lubricator is picked up - this leaves line coiled on the often rutted ground, and sometimes it snags and kinks the line).

Jumat, 19 April 2013

Fluida Hidrokarbon Minyak Berat (Black Oil)

MINYAK BERAT 

Minyak berat adalah Minyak yang banyak mengandung unsur Hidrokarbon atau Jenis fluida reservoir yang disebut low-shrinkage atau minyak biasa dari pada minyak ringan . Minyak Berat yang dicirikan memiliki rasio produksi gas-minyak awal 2000 scf / STB  atau kurang.
Contoh Minyak Berat
 Menghasilkan gas-minyak rasio akan meningkat selama produksi saat tekanan reservoir minyak turun di bawah tekanan bubble-ponit. Minyak stok-tank biasanya akan memiliki gravitasi bawah 45 API. 
Stock-tank gravitasi minyak akan sedikit menurun seiring waktu sampai akhir dalam kehidupan reservoir ketika akan meningkat. Minyak stok-tank sangat gelap, menunjukkan adanya hidrokarbon berat, sering hitam, kadang-kadang dengan balutan kehijauan, atau cokelat.


                   Diagram fase dari minyak berat yang khas dengan garis isotermal dari pengurangan tekanan reservoir, 123, dan kondisi permukaan separator)
Diagram fase dari minyak berat yang khas dengan garis isotermal dari pengurangan tekanan reservoir, 123, dan kondisi permukaan separator)

 Jika tekanan reservoir berada pada titik 2, minyak berada pada titik gelembung dan dikatakan jenuh. 
Minyak mengandung gas terlarut sebanyak itu bisa terus menerus. Penurunan tekanan akan melepaskan gas untuk membentuk fase gas bebas pada reservoir.
Kata undersaturated digunakan dalam pengertian ini untuk menunjukkan bahwa minyak bisa dilarutkan oleh gas lagi jika gas yang lebih banyak hadir.

Kamis, 18 April 2013

Penamaan Senyawa


Dua jenis ikatan kimia :
         Ikatan Ionik (dihasilkan oleh perpindahan elektron dari suatu atom ke atom lain).
         Ikatan Kovalen (dihasilkan oleh sharing elektron antara suatu atom dengan atom yang lain).

Senyawa H.K. umumnya terbentuk oleh ikatan kovalen, dasarnya adalah sifat tetravalen dari atom karbon (C).
                                              Contoh Ikatan Ionik (Ionic Bonding)



Contoh Ikatan Ionik (Ionic Bonding) 
 
             Sistem Penamaan Senyawa Organik

         Didasarkan pada sistem IUPAC (International Union of Pure an Applied Chemistry).
         Nama trivial (non-sistematik) kadang-kadang masih digunakan bersama dengan nama IUPAC.
 

KOMPONEN PENYUSUN GAS ALAM


 Komponen Penyusun Fluida Hidrokarbon Alam


  •        Fluida hidrokarbon alam yang terjebak dalam reservoir tersusun dari bahan-bahan kimia organik     
  •          Apabila campuran bahan kimia tersebut terdiri dari mol-mol ringan, maka campuran tersebut berbentuk gas pada temperatur dan tekanan normal (permukaan), dan disebut sebagai “gas alam” (natural gas).
  •          Apabila campuran bahan kimia tersebut terdiri dari mol-mol berat, maka campuran tersebut berbentuk cairan pada temperatur dan tekanan normal, dan disebut sebagai ”minyak mentah” (crude oil).


Tabel 1.1a  Komponen pembentuk gas alam

Komponen
% mol
Hidrokarbon:

Methane
Ethane
Prophane
Butane
Pentane
Hexane
Heptane

Non Hidrokarbon:

Nitrogen
Carbon dioxide
Hidrogen sulfide
Helium


70 – 98 %
1 – 10 %
trace – 5 %
trace – 2 %
trace – 1 %
trace – 0.5 %
kecil (umumnya tidak ada)



Trace – 15 %
Trace – 1 %
Kadang-kadang
0 s/d 5 %


 
series of natural gas

Hydrocarbon





Jumat, 29 Maret 2013

Jenis-jenis lumpur pemboran.



            Pada dasarnya  Zaba and Doherty (1970) mengklasifikasikan lumpur pemboran berdasarkan fasa fluidanya, yaitu : air (water-base), minyak (oil-base) dan gas, sebagai berikut :
  1. Fresh water mud (lumpur air tawar)
    1. Spud Mud
Komposisi : air + bentonite + loss circulation material
    1. Natural atau Native Mud (alami)
Komposisi : pecahan-pecahan cutting + air + additive koloidal
    1. Bentonite – treated Mud
Komposisi : air + bentonite + thinner
    1. Phosphate – treated Mud
Komposisi : air + bentonite + polyphosphate + tannin
    1. Organic Colloid – treated Mud
Komposisi : air + bentonite + organic colloid (CMC, pregelatized starch)
    1. Red / Alkaline – tannate treated Mud
Komposisi : air + bentonite + alkaline + organic colloid + polyphosphate
    1. Calcium Mud
a.       Lime – treated Mud
Komposisi : air + bentonite + cautic soda / organic thinner + hydrate lime
b.      Gypsum – treated Mud
Komposisi : air + bnetonite + plaster (CaSO4) + preservative (pengawet)
c.       Calcium – treated Mud
Komposisi : air + bentonite + hydrate lime + gypsum + Ba(OH)2
2.   Salt water mud (lumpur air asin)
a.       Unsaturated Salt Water Mud
Komposisi : air asin tidak jenuh NaCl + attapulgite (pengganti bentonite) + organic colloid + thinner + solluble surface active agent (defoamer)
b.      Saturated Salt Water Mud
Komposisi : air asin jenuh NaCl + attapulgite (pengganti bentonite) + organic colloid + thinner + solluble surface active agent (defoamer)
c.       Sodium Silicate Mud
Komposisi : air asin tidak jenuh NaCl + attapulgite (pengganti bentonite) + organic colloid + thinner + solluble surface active agent (defoamer) + SiO2 (sodium silicate)

3.      Oil Based Mud
Komposisi : bentonite + 90% solar / crude oil + 5% air + 5% emulsifier +
            additive (sesuai sifat yang diinginkan)

4.      Emulsion Mud
a.       Oil in water Emulsion
Komposisi : bentonite + 50% air + 40% solar / crude oil + emulsifier + additive
b.      Water in Oil Emulsion
Komposisi : bentonite + 40% air + 50% solar / crude oil + emulsifier + additive

5.      Gaseous Drilling Fluid
a.       Udara atau gas alam
Komposisi : udara / gas alam / Nitrogen
b.      2 Fasa / Aerated Mud
·         Mist
Komposisi : udara sebagai fasa kontinyu + air sebagai fasa terdispersi
·         Foam
Komposisi : terdiri dari cairan, gas, foamers, defoamers. Corrosion inhibitor, mungkin  KCl dan lain-lain. Pada stiff foam airnya akan ditambah polymer (viscosifier)
·         Gasified liquid :
Komposisi : air + gas (N2) yang diinjeksikan dipermukaan dan di annulus melalui parasite tubing string.

contoh lumpur pemboran
aliran sirkulasi lumpur pemboran







Selasa, 29 Januari 2013

pencegah terjadinya korosi


Dengan dasar pengetahuan tentang elektrokimia proses korosi yang dapat
menjelaskan mekanisme dari korosi, dapat dilakukan usaha-usaha untuk
pencegahan terbentuknya korosi. Banyak cara sudah ditemukan untuk
pencegahan terjadinya korosi diantaranya adalah dengan cara proteksi katodik,
coating, dan pengg chemical inhibitor.

Proteksi Katiodik
Untuk mencegah terjadinya proses korosi atau setidak-tidaknya untuk
memperlambat proses korosi tersebut, maka dipasanglah suatu anoda buatan di
luar logam yang akan diproteksi. Daerah anoda adalah suatu bagian logam yang
kehilangan elektron. Ion positifnya meninggalkan logam tersebut dan masuk ke
dalam larutan yang ada sehingga logaml tersebut berkarat.
Terlihat disini karena perbedaan potensial maka arus elektron akan
mengalir dari anoda yang dipasang dan akan menahan melawan arus elektron
dari logam yang didekatnya, sehingga logam tersebut berubah menjadi daerah
katoda. Inilah yang disebut Cathodic Protection.
Dalam hal diatas elektron disuplai kepada logam yang diproteksi oleh
anoda buatan sehingga elektron yang hilang dari daerah anoda tersebut selalu
diganti, sehingga akan mengurangi proses korosi dari logam yang diproteksi.
Anoda buatan tersebut ditanam dalam suatu elektrolit yang sama (dalam
hal ini tanah lembab) dengan logam (dalam hal ini pipa) yang akan diprotekasi
dan antara dan pipa dihubungkan dengan kabel yang sesuai agar proses listrik
diantara anoda dan pipa tersebut dapat mengalir terus menerus.

Coating
Cara ini sering dilakukan dengan melapisi logam (coating) dengan suatu
bahan agar logam tersebut terhindar dari korosi.

Pemakaian Bahan-Bahan Kimia (Chemical Inhibitor)
Untuk memperlambat reaksi korosi digunakan bahan kimia yang disebut
inhibitor corrosion yang bekerja dengan cara membentuk lapisan pelindung pada
permukaan metal. Lapisan molekul pertama yang tebentuk mempunyai ikatan
yang sangat kuat yang disebut chemis option. Corrosion inhibitor umumnya
berbentuk fluid atau cairan yang diinjeksikan pada production line. Karena
inhibitor tersebut merupakan masalah yang penting dalam menangani kororsi
maka perlu dilakukan pemilihan inhibitor yang sesuai dengan kondisinya. Material
corrosion inhibitor terbagi 2, yaitu :
1. Organik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari hewan dan tumbuhan yang mengandung unsur
karbon dalam senyawanya. Material dasar dari organik inhibitor antara lain:


Turunan asam lemak alifatik, yaitu: monoamine, diamine, amida, asetat,
                                        oleat, senyawa-senyawa amfoter.

Imdazolines dan derivativnya

2. Inorganik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari mineral-mineral yang tidak mengandung unsur
karbon dalam senyawanya. Material dasar dari inorganik inhibitor antara lain
kromat, nitrit, silikat, dan pospat.




contoh korosi yang terjadi pada Pipa pada saat dilakukan pemboran  







Korosi


Korosi adalah suatu proses elektrokimia dimana atom-atom akan bereaksi
dengan zat asam dan membentuk ion-ion positif (kation). Hal ini akan
menyebabkan timbulnya aliran-aliran elektron dari suatu tempat ke tempat yang
lain pada permukaan metal.
Secara garis besar korosi ada dua jenis yaitu :

Korosi Internal
yaitu korosi yang terjadi akibat adanya kandungan CO2 dan H2S pada minyak
bumi, sehingga apabila terjadi kontak dengan air akan membentuk asam yang
merupakan penyebab korosi.

Korosi Eksternal
yaitu korosi yang terjadi pada bagian permukaan dari sistem perpipaan dan
peralatan, baik yang kontak dengan udara bebas dan permukaan tanah, akibat
adanya kandungan zat asam pada udara dari tanah.

2.1. Tempat-tempat Terjadinya Korosi Pada Produksi Minyak
Masalah korosi yang terjadi dilapangan produksi minyak adalah
1. Down Hole Corrosion
High Fluid level pada jenis pompa angguk di sumur minyak dapat
menyebabkan terjadinya stress pada rod bahkan dapat pula terjadi corrosion
fatigue. Pemilihan material untuk peralatan bottom hole pump menjadi sangat
renting. Pompa harus dapat tahan terhadap sifat-sifat korosi dari fluida yang
diproduksi dan tahan pula terhadap sifat abrasi.

                    2. Flowing well
Anulus dapat pula digunakan untuk mengalirkan inhibitor ke dasar tubing dan
memberikan proteksi pada tabung dari kemungkinan bahaya korosi. Pelapisan
dengan plastik dan memberikan inhibitor untuk proteksi tubing dapat pula
digunakan pada internal tubeing surface.
3. Casing Corrosin .
Casing yang terdapat di sumur-sumur produksi bervariasi dari yang besar
sampai yang cnsentric acid. Diperlukan perlindungan katiodik untuk external
casing. Korosi internal casing tergantung dari komposisi annular fluid.
4. Well Heads .
Peralatan dari well heads, terutama pada well gas tekanan tinggi, sering
mengalami korosi yang disebabkan oleh kecepatan tinggi dan adanya
turbulensi dari gas.
5. Flow Lines
Adanya akuntansi dari deposit di dalam flow line dapat menyebabkan korosi
dan pitting yang akhirnya menyebabkan kebocoran. Internal corrosion di
dalam flow line dapat dicegah dengan inhibitor.

2.2. Tipe korosi di Lapangan Minyak
Tipe-tipe korosi di lapangan minyak pada umumnya diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Uniform Corrosion
yaitu korosi yang terjadi pada permukaan logam yang berbentuk pengikisan
permukaan logam secara merata sehingga ketebalan logam berkurang
sebagai akibat permukaan terkonversi oleh produk karat yang biasanya
terjadi pada peralatan-peralatan terbuka. misalnya permukaan luar pipa.
2. Pitting Corrosion
yaitu korosi yang berbentuk lubang-lubang pada permukaan logam karena
hancurnya film dari proteksi logam yang disebabkan oleh rate korosi yang
berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya pada permukaan
logam tersebut.
3. Stress Corrosion Cracking
yaitu korosi berbentuk retak-retak yang tidak mudah dilihat, terbentuk
dipermukaan logam dan berusaha merembet ke dalam. Ini banyak terjadi
pada logam-logam yang banyak mendapat tekanan. Hal ini disebabkan
kombinasi dari tegangan tarik dan lingkungan yang korosif sehingga struktur
logam melemah.
4. Errosion Corrosion
yaitu korosi yang terjadi karena tercegahnya pembentukan film pelindung
yang disebabkan oleh kecepatan alir fluida yang tinggi, misalnya abrasi pasir,
5. Galvanic Corrosion
yaitu korosi yang terjadi karena terdapat hubungan antara dua metal yang
disambung dan terdapat perbedaan potensial antara keduanya.
6. Crevice Corrosion
yaitu korosi yang terjadi di sela-sela gasket, sambungan bertindih, sekrup-
sekrup atau kelingan yang terbentuk oleh kotoran-kotoran endapan atau
timbul dari produk-produk karat.
7. Selective Leaching
korosi ini berhubungan dengan melepasnya satu elemen dari Campuran
logam. Contoh yang paling mudah adalah desinfication yang melepaskan zinc
dari paduan tembaga.